Sekilas Dramaturgi (I)Untuk Aktor/aktris pemula -->
close
Adhyra Irianto
14 January 2013, 1/14/2013 06:09:00 PM WIB
Terbaru 2014-01-21T07:06:04Z
BeritaDiary PetassMateri TeaterteaterTeater Petass

Sekilas Dramaturgi (I)Untuk Aktor/aktris pemula

Advertisement
Dramaturgi
by Teater Petass

Awalnya, saya selalu menganggap bahwa Dramaturgi, atau suatu disiplin ilmu/ajaran masalah hukum dan konvensi drama merupakan hal yang menjadi hak milik sutradara. Pendapat saya, pemain hanya perlu mengikuti arahan sutradara sedangkan sutradaralah yang mesti memahami tentang dramaturgi itu sendiri. Faktanya, hal demikian saya pegang ketika saya masih dalam posisi bermain. Ketika saya mulai diberi kesempatan menjadi seorang sutradara, saat itulah saya sadar bahwa selama ini saya salah!

Konsep yang tertuang dalam dramaturgi ternyata lebih difokuskan kepada pemain. Dimulai dari teknik bermain peran atau akting, hingga mengetahui seluk beluk panggung. H WS Rendra mengungkapkan "tanpa adanya pengetahuan dramaturgi yang baik oleh seorang aktor, maka miskinlah keaktorannya". Jelas, seni peran itu bukan hanya sekedar bakat alam oleh seorang aktor, namun juga "diatur" oleh norma. Selain kepercayaan diri dari seorang aktor, kurangnya pengetahuan akan dramaturgi, niscaya akan membuat ketidakmampuan dirinya memerankan peran yang "dibebankan" sutradara kepadanya. Lantas, seperti dalam drama konvensional dimana drama akan benar-benar berjalan sesuai dengan tuntutan hukum drama bagaimana pemunculan motivasi dan perwatakan aktor di dalam pementasan, alurnya dan memancing keinginan penonton?
Brander Mathews menyatakan "konflik drama adalah sumber utama drama, menyuguhkan kualitas manusia, situasi perhatian, ketegangan (exciting) bagi pendengar/penonton." Diperjelaslagi dengan pendapat Ferdinand Brunetiere yang kemudian mengembangkan konsep dramaturgi tersebut menjadi hukum drama. Pokok dari pengembangan konsep dramaturgi oleh Ferdinand Brunetiere yakni lakon harus menghidupkan pernyataan kehendak manusia menghadapi dua kekuatan yg saling beroposisi. Singkatnya, harus ada peran antagonis yang menentang dalam drama tersebut. Pembangunan drama dimulai dari pembentukan dua "kubu"yang saling berlawanan inilah nantinya akan menciptakan konflik drama. Perlu diingat, konflik drama yang terus dibumbui hingga mencapai puncaknya, merupakan suatu kunci drama konvensional menjadi suatu pertunjukan yang menarik.
Richard Bolelavski mengungkapkan 6 unsur pertama yang sangat penting dikuasai oleh seorang aktor sebelum "naik kepanggung". Secara singkat, 6 unsur tersebut ialah :
1.Konsentrasi
Berhubungan dengan kemampuan seorang aktor untuk menguasai dirinya sendiri dengan menguasai fikiran, emosi dan seluruh kekuatan rohani.

2.Ingatan Emosi
Untuk menunjang suatu peran, sangat diperlukan ingatan masa lalu yang dapat membangun ekspresi serta penjiwaan peran.

3.Pembangunan Watak
Perwatakan setiap tokoh sesuai dengan arahan sutradara atau kehendak naskah untuk memunculkan suasana dramatis.

4.Laku Dramatik
Berhubungan erat dengan gesture, baik gestur tubuh keseluruhan ataupun ekspresi atau mimik wajah.

5.Observasi atau pengamatan
Hal ini mutlak dilakukan oleh setiap aktor sebelum akhirnya memerankan suatu tokoh. Pengamatan didunia nyata tentang perannya sedikit banyak akan memberi banyak masukan untuk perannya di panggung.

6.Irama
Teater Petass masih sepakat bahwa salah satu kesamaan antara Lagu dengan drama ialah adanya tempo. Perlunya tempo ini akan mengatur irama permainan drama tetap teratur, meskipun sutradara mencoba irama drama yang progresive.

Demikian, namun hal-hal yang diungkapkan diatas merupakan pendapat pribadi dari Teater Petass. Kritik dan saran membangun dari berbagai pihak masih diharapkan untuk memperkuat pedoman Teater Petass.

NB : untuk anak-anak Teater Petass yang ingin tahu lebih banyak, buku tentang drama dan dramaturgi ada dirumah mas Adhy dan diperbolehkan meminjam asal jangan rusak.

Ads