Eksistensi Grup Teater, di Tengah Bisnis Hiburan

Ilustrasi pementasan Teater

 "Satu hal yang tidak bisa dimiliki oleh seniman teater; kemampanan finansial"


pojokseni.com - Kalimat tersebut dikatakan oleh sutradara Teater Satu Lampung, Iswadi Pratama yang dikutip dari salah satu portal berita daring. Tentu saja, tidak ada yang bisa menyangkal kalimat itu. Pekerja teater selalu mengalami masalah yang sama, masalah ekonomi. Apalagi, pekerja teater dari grup teater yang kecil.

Jadinya, satu persatu pekerja teater meninggalkan "sementara" grupnya, meskipun pada kenyataannya mereka tak pernah kembali. Grup teater yang kecil, atau menengah satu-persatu roboh, karena kehilangan tiang-tiangnya. Lalu, perkembangan teater berjalan di tempat, teater tak lagi menjadi sebuah gerakan yang masif, hiburan yang menarik juga kreatif.

Pementasan Teater

Ketika almarhum Teguh Karya meninggal dunia, dan meninggalkan Teater Populer-nya, pelopor teater tanah air itu sempat goyah dan vakum. Slamet Rahardjo yang kembali menghidupkan grup itu menyatakan bahwa Teater Populer seperti rumah hantu, karena ditinggalkan oleh para punggawanya. Padahal, teater itu adalah salah satu grup teater terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia, dan melahirkan aktor-aktor berkualitas. Sebut saja Christine Hakim, Alex Komang, Hengki Sulaiman, Slamet Rahardjo dan sebagainya. Migrasi para pekerja teater ke industri sinetron dan film ditenggarai menjadi salah satu penyebabnya. Namun, dari sisi sebaliknya, film-film berkualitas juga sinetron berkualitas bermunculan di era itu.

Sisi plusnya, para aktor yang berhasil di industri yang baru menjadi seorang yang kreatif, berkembang, populer dan mapan secara finansial. Sisi minusnya, grup teater yang turut membesarkan namanya, juga memberinya pengalaman seni peran menjadi "sakit-sakitan". Hasilnya, grup teater mati, aktor jebolan baru jadi berkurang. Hal itu juga berdampak negatif pada industri sinetron dan perfileman, di mana data dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebutkan bahwa sinetron dan tayangan televisi Indonesia saat ini rata-rata memiliki nilai 2,88 yang masih di bawah standar siaran yang berkualitas. Bahkan, angka tersebut juga masih di bawah poin untuk siaran atau tayangan yang masuk dalam kategori "kurang berkualitas" yakni 3,00.

Harus Ada Simbiosis Mutualisme


Ilustrasi Pementasan Teater

Sempat muncul gagasan, bahwa industri sinetron dan perfilman mustinya membuat semacam kerjasama yang saling menguntungkan dengan grup teater. Salah satunya, industri perfilman dapat mengambil aktor dari sebuah grup teater yang konsisten, dengan semacam kompensasi untuk grup yang "kehilangan" aktornya tersebut. Dengan demikian, grup teater masih akan terus berkembang dan mendapat dukungan finansial, sehingga bisa terus menghasilkan aktor-aktor yang kuat. Selanjutnya, keuntungan bagi industri perfilman adalah lahirnya aktor-aktor yang berkualitas, sehingga industri perfilman terus bergeliat dan berkualitas.

Apalagi, industri perfilman selalu menawarkan apa yang tidak bisa didapatkan seorang pekerja teater dari panggung dan grupnya, kemapanan!

Jadinya, meski ada migrasi pekerja teater, dari grupnya ke industri perfilman, tentunya tidak sampai harus membuat grup yang ditinggalkannya jadi mati suri, bukan?


Selain itu, harus kita akui bahwa grup teater di Indonesia cenderung bergantung ke satu orang. Apabila satu orang tersebut sakit, lemah, atau bahkan meninggal, maka itu juga yang akan terjadi pada grup teaternya. Hal itu juga harus perlahan-lahan dirubah dan diperbaiki. Sehingga, kehilangan satu atau dua orang tak serta merta membuat satu grup teater sampai harus kehilangan 80 persen kekuatannya. Dengan demikian, seni teater akan terus bisa bergeliat dan "bertempur" di tengah derasnya gempuran dari industri hiburan lainnya. (ai/pojokseni)

No comments:

Post a Comment

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Artikel Menarik Hari Ini

    memuat ...