Pecinta Teater Sekitaran Surabaya, Yuk Nonton Monolog "Pidato" di STKW Surabaya



pojokseni.com - Akan ada sebuah pertunjukan monolog menarik pada tanggal 28 Januari 2018, Minggu, mendatang di Pendopo Sekolah Tinggi Kesenian Wilatikta Surabaya, Jalan Klampis Anom II, Klampis, Ngasem Sukolilo, Surabaya. Pentas tersebut bertajuk Pidato karya Putu Fajar Arcana yang dibawakan oleh aktor Lubet Arga tengah dengan dramaturg Fatah Hidayat.

Dari rilis pers yang diterima pojokseni, aktor pertunjukan tersebut Lubet Arga Tengah menyatakan sampai saat ini peristiwa teater masih semarak dilakukan baik secara bentuk festival, peringatan, maupun secara mandiri. Namun dalam berjalannya waktu, sebagian para pelaku teater banyak mendapatkan macam-macam persoalan yang bersifat teknis atau kegamangan-kegamangan dalam melakukan. Terutama kelompok-kelompok kecil yang tidak mempunyai fasilitas yang lengkap.

"Semisal masih berkutat soal teknis, kebutuhan tata panggung, pencahayaan,  pendanaan dan sebagainya. Kegelisahan-kegelisahan seperti itu sebenarnya bukan penghambat utama. Penghambat utama yang nyata ialah malas melakukan (berkarya)," kata dia.

Oleh karena itu, lanjut Lubet, di sini mereka akan menawarkan sebuah bentuk pertunjukan teater yang barangkali bisa menjawab atas persoalan-persoalan tersebut. Lakon yang akan disajikan ialah naskah Pidato karya Putu Fajar Arcana. "Konsep yang kami tawarkan ialah bentuk Teater Miskin yang digagas oleh Jerzey Grotowski," lanjut dia.

Jerzy Grotowski muncul terlebih ketika kehadiran teknologi lewat media film dan televisi yang kemudian juga merambah ke dalam dunia teater, terutama melalui penataan cahaya, penataan musik, juga tata setting, justru menciptakan kemegahan artistik yang berlebihan. Penyatuan antara aktor dan penonton dalam sebuah peristiwa teater yang diyakininya sebagai jantung teater tidak terjadi secara alami, Grotowski berpendapat ini awal dari keruntuhan teater. (Baca juga : Teater dan Teknologi : Artistik Eksesif.)

Jerzey Grotowsky

Melalui kerja-kerja riset artistik yang mendalam, Grotowski merevitalisasi kaidah-kaidah dasar teater melalui kekuatan seorang aktor. Yang membuat pementasan teater Grotowski berbeda dengan menonton televisi adalah pertemuan langsung antara aktor dan penonton. Ketika pertemuan ini terjadi, seorang aktor melalui media otot-otot wajah dan tubuhnya harus mampu menunjukkan ekspresi kemanusiaannya yang paling dalam. Menurut Grotowski “teater tidak mengenal batas antara aktor sebagai individu dengan penonton yang kolektif”. Di sanalah proses pembentukan diri keduanya terjadi. Proses ini dapat terjadi apabila aktor mampu mentransformasikan naskah atau maksud dari peristiwa, sehingga yang terjadi bukan hanya pikiran, tetapi terkait dengan tubuh dan reaksi fisik serta memoriuntuk melakukan tindakan konkret. Proses ini dikatakan berhasil apabila penonton dapat merefleksikan apa yang dialami oleh aktor.

Sinopsis Monolog "Pidato"


Seorang lelaki yang setengah baya tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Kemudian ia memaparkan sesuatu tentang politik. walaupun sebenarnya ia tidak suka soal politik. Hanya saja ia adalah korban dari politik. Di mana ia diculik saat ia masih berusia 20 tahun tepatnya pada bulan Desember 1965. Karena ia masuk dalam daftar pencarian orang. Padahal ia sebenarnya hanya seorang petani biasa, yang sedang bekerja di bekas tanahnya sendiri.

Kemudian dianggapnya sebagai antek-antek PKI oleh segerombolan orang yang berseragam hitam lengkap dengan senjatanya. Dalam daftar nama disebutkan bernama Teler. Sementara nama aslinya ialah Meler. Tetapi sudah tidak ada bahasa barang akan kembali jika sudah terlanjur diambil. Ia dihukum tanpa dihakimi dengan adil. Ditaruh di sebuah gudang yang lantainya penuh darah. Tiba pada gilirannya ia pun juga harus mati dengan cara dibakar.

Tubuh Lelaki itu tiba-tiba melorot dan kemudian jatuh tertidur. Ketika perlahan bangun dan mengusap-usap mata, lalu mengerjap-ngerjap lucu berkata dengan perasaan yang heran akan orang-orang yang sedang berada di sekitarnya.

Tema Kejiwaan


Dalam lakon Pidato karya Putu Fajar Arcana, berkisah masalah tema kejiwaan, yang dimaksud tema kejiwaan disini adalah menurut pendapat Edwin Muir (dalam Yakob Sumarjo, 2004:328) bahwa pada dasarnya ada dua kategori tema besar yaitu: tema ekstensif, tema yang menyinggung masalah luar pribadi tokoh dan tema intensif yaitu tema yang berkisar pada segala sesuatu yang hidup dalam diri sang tokoh. Kalau persoalannya menyangkut  kemelut, konflik didalam batin  tokoh, maka dapatlah dimasukkan ke dalam kategori kejiwaan.

Dalam naskah Putu Fajar Arcana, tema yang ditampilkan berkisah suasana kejiwaan dari tokoh si lelaki semasih mudanya yang menyangkut status dirinya yang juga sebagai anak seorang petani. Keresahan-keresahan yang dialami waktu mudanya ialah ketika melihat orang tuanya bertani dan menggarap di bekas sawahnya. Yang paling membuat risau ketika dirinya tiba-tiba dianggap antek-antek PKI. Tentu pada masa itu ketika sudah dianggap PKI sepertinya nyawa sudah di depan mata. Padahal si tokoh Lelaki itu tidak pernah ikut campur urusan politik. ia hanya bergerak dan bergerak untuk melakukan bagaimana hak-hak keluarganya juga beserta masyarakat di sekitarnya terpenuhi.

Tetapi apa daya si lelaki yang masih tergolong muda karena usianya 20 tahun harus menerima nasibnya sendiri. Di mana ia pun di dalam bui harus menyaksikan kawan-kawannya yang lain mati tertembak tanpa ampun. Di saat itulah dalam dirinya makin tertekan, mulutnya seperti terkunci dan tidak bisa mengeluarkan sepatah duapatah kata pun. Ia hanya mampu mengeluarkan isak tangis. Sampai akhirnya ia harus mengakhiri riwayatnya di dalam bui dengan mati yang tidak normal. Mati tersiksa dengan cara dibakar.

Kemudian setelah pertunjukan akan ada diskusi karya dengan para pengulas pertunjukan antara lain: Bapak Roci Marciano, M.Sn, Bapak Deha Meong, S.Sn, Bapak Imam CB, Bapak Heny Purnama, S.Sn, M.Pd. Pementasan ini juga didukung oleh Sabda Theatre, AKDP Surabaya, Komunitas Tikar Merah dan Pojok Seni. (ai/mp/pojokseni)

Tim Produksi
Manajer Produksi: Basiq el Fuadi
Manajer Panggung: M. Iqbal
Penata Artistik: Rizky Amrian
Penata Musik: Rachman Tangkis
Dokumentasi: Nadhiratul W.
Dramaturg: Fatah Hidayat
Aktor: Lubet Arga Tengah

No comments:

Post a Comment

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

memuat ...