Download Naskah Monolog : Topeng-topeng dan Tangis Napi -->
close
30 April 2014, 4/30/2014 02:50:00 AM WIB
Terbaru 2014-04-29T19:50:05Z
teater

Download Naskah Monolog : Topeng-topeng dan Tangis Napi

Advertisement
www.teaterpetass.com : download naskah monolog topeng
Download naskah monolog.

Dalam kesempatan kali ini, Tim Teater Petass Corp kembali membagikan naskah monolog gratis. naskah yang dibagikan antara lain :

1.
MONOLOG
TOPENG
TOPENG
(RACHMAN SABUR)


DARI BAGIAN ATAS PANGGUNG ADA DUA BENTANGAN KAIN HITAM DAN KAIN PUTIH. MASING-MASING BERJARAK. DARI DUA BENTANGAN KAIN PUTIH DAN HITAM YANG VERTIKAL INI BISA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS AREA PERMAINAN BAGI SANG PEMAIN. ATAU BISA JUGA DIJADIKAN SEBAGAI BATAS ALAM NYATA YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN HITAM. DAN BATAS ALAM KHAYALI YANG DILATAR BELAKANGI BENTANGAN KAIN PUTIH. YANG SEWAKTU-WAKTU BISA DIPAKAI JUGA UNTUK ADEGAN BAYANG-BAYANG. DI DEPANNYA ADA SEBUAH PETI PANJANG BERWARNA HITAM. DI ATASNYA ADA DUA BUAH TOPENG YANG BERWARNA HITAM DAN PUTIH.

PADA BAGIAN AWAL TERDENGAR BUNYI-BUNYI TETABUHAN. SANG PEMAIN BERGERAK MENGELILINGI PETI. BUNYI-BUNYI TETABUHAN TERDENGAR SEMAKIN MENINGGI. SANG PEMAIN BERGERAK SEMAKIN CEPAT MENGELILINGI PETI. SAMPAI PADA PUNCAKNYA BUNYI-BUNYI TETABUHAN TIBA-IBA BERHENTI. SANG PEMAIN MENGHILANG DI BALIK PETI. TAPI TAK LAMA KEMUDIAN MUNCUL KEMBALI.

Sebagai seorang anak panggung, sebelumnya saya mengingatkan, bahwa dua tokoh yang nanti akan saya perankan, mungkin mempunyai permasalahan yang tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seseorang, atau sekelompok orang, atau oleh siapapun. Mungkin sama, atau mungkin juga berbeda. Mungkin. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Jamak saja kalau kita mempunyai pikiran yang berbeda. Wajar saja kalau kita mempunyai perasaan yang sama. Dan sah-sah saja kalau kita mempunyai pikiran yang sama, dan perasaan yang berbeda dengan seseorang, atau sekelompok orang, atau dengan siapapun. Yang menjadi  pikiran kita sekarang adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi situasi itu. Apakah kita harus menjadi marah? Sakit? Menangis? Benci? Kecewa? Tertawa? Atau kita harus terus membohongi pikiran dan hati nurani sendiri?

Kalau saja, saya bisa percaya…, kalau saja kita mau bijaksana sedikit. Tentunya kita dapat membicarakan segala kebohongan yang ada. Segala yang terjadi dan akan terjadi…
Baik. Kalau begitu akan saya mulai saja.

DOWNLOAD NASKAH MONOLOG INI Secara Lengkap >> DISINI

2. 


Monolog
TANGIS NAPI
PEMBUNUH
karya Luki Safriana

SEORANG PEREMPUAN PARUH BAYA TERSUDUT DI RUANG KAMAR PENGAB PENJARA ITU. NAPI PEMBUNUH. MEMASUKI UMURNYA YANG KE-35, DIA SUDAH MENGALAMI 1/3 MASA HUKUMAN DARI TOTAL 30 TAHUN. DIA MASIH TERLIHAT CANTIK DAN RUPAWAN. KENING DAN GURATAN MUKA ITU HANYA MENUNJUKKAN MUKA PENYESALAN YANG MENDALAM. HARI ITU TATAPANNYA MENATAP TAJAM MEMPERLIHATKAN DAN MENGINGATKAN SUASANA/ KEJADIAN YANG KELAM DIMANA DIA TERPAKSA MEMBUNUH SANG PACARANYA YANG TELAH MENGHAMILINYA DILUAR NIKAH DAN TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB. PERISTIWA YANG TELAH MENGUBAH SEGALANYA. REGUK MANIS MADUNYA KEHIDUPAN YANG SELAMANYA MENJADI PETAKA NYARIS TAK BERUJUNG. MESKI DEMIKIAN, DIA TETAP TABAH MENGHADAPINYA DAN TEGAR MENERIMA BERBAGAI CACIAN CEMOOHAN ORANG LAIN SETA DICAP SEBAGAI PEMBUNUH BERJILBAB BERDARAH DINGIN. DIA IKHLAS. DITEMANI LAMPU TEMARAM. 

“ Astaghfirullahal’adziiiim.. Aku menyesal. Aku puas. Aku bertobat.. Campur aduk perasaanku… 

(menutup muka lalu tertawa) 

Aku masih ingat betul waktu tanganku memegang pisau itu.. haha 

(tertawa sambil memegang pisau2an) 

Waktu pacarku sedang tertidur terlelap, aku tusuk, tusuk, tusuk, tusuk ke seluruh tubuhnya! Bangsaaaaaat! Upz, aku harus mampu menjaga emosi, dan kewibawaanku. Apalagi aku perempuan berjilbab memang perempuan berjilbab tak boleh membunuh? enak saja baginya aku tahu aku telah berbuat dosa aku tidak bias mengontrol nafsu syahwatku.. Siaal! aku kan perempuan juga?? Lagian jilbabkan hanya menutupi aurat, bukan menutupi nafsu selangkangan.. 

(Lalu tidur di ranjang dan bercumbu dengan guling)
.........................................
Download naskah monolog ini secara lengkap >> DISINI

Ads